Langsung ke konten utama

Pesan Pak Tani

Pesan Pak Tani. 

Bapakku , Petani. 
Setiap hari mengurus sawah, ladang, kebun. 
Kasih sayang selalu ia tenun. 
Disela hari tuanya, Bapakku pernah berpesan. 
Janganlah jadi tua yang menyebalkan. 
Jadilah menyenangkan. 
Jangan suka kelabuhi Tuhan. 
Apalagi mengatasnamakan ayat. 
Memutar balikkan riwayat. 
*
Nak, menanamlah. 
Jangan gemar berdusta. 
Ibumu akan murka. 
Ada sekantong bibit di depan gudang. 
Bibit kebaikan, kesederhanaan, kejujuran, kebermanfaatan. 
Jangan sekedar menanam harapan. 
Jika salah, jangan pergi. 
Apalagi melakukan pembenaran yahudi. 
Nak, merangkul, jangan memukul. 
Jika tanaman temanmu lebih baik darimu. 
Maka belajarlah lebih. 
Jangan anggap dirimu yang menang sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Kirim Paket Lagi ! Tidak Lucu

Rahma, pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih atas kehadirat Allah Swt, karena berkat rahmat dan karunianya saya bisa menyukai, menyimpan rasa, dan merindukan senyumanmu. Salawat juga salam saya haturkan kepada junjungan Nabiullah Muhammad Kekasih Allah S.A.W., karena atas Nur-Muhammad segala ada di bumi tercipta. Rahma, sepertinya menyenangkan mencintaimu. Ketidakinginanmu dicintai itu yang membuatku senang, sebab saya tidak perlu berekspektasi tinggi tentang cintaku, apakah ia akan berbalas atau tidak. Tetapi, hati laki laki tidak boleh berbohong, sungguh saya musti jujur dan mencintaimu selalu. Sebelum menghadiahkanmu baju sepakbola ini, saya pernah menghadiahkanmu minuman kesukaanmu. Kau bilang berlebihan, jangan ulangi lagi. Rahma yang cantik, saya tahu bahwa kau menikmatinya, dalam minuman itu pesanku singkat, karena saya belum sempat menemanimu menikmati malam saat itu, maka biarkan minuman itu terlebih dahulu menemanimu. "pertama dan terakhir!" se...

Buttu Cui Yang Kurindukan Setiap Agustus

Buttu Cui adalah sebuah daerah di pinggiran kota Enrekang, hanya dengan menunjukkan di mana letak Masjid Agung Enrekang, maka kamu akan mendapat Buttu Cui.  Saya adalah seorang pemuda yang sewaktu kecil membanggakan diri menjadi orang BTC (singkatan dari Buttu Cui), mungkin yang paling mendasari kebanggaanku ini adalah tim sepakbolanya, ada banyak legenda hidup sepakbola di daerahku ini, begitu juga setelah saya melihat beberapa album di rumah Bapak Rahul, bahwa dahulu hingar bingar kejayaan persepakbolaan Buttu Cui itu benar-benar ada. Juga ada beberapa cerita dari senior-senior di BTC ini ketika mereka beralih dari anak ingusan ke masa remaja. Terlepas dari itu semua, yang paling kurindukan adalah suasana 17 Agustusan di zamanku kecil, yang mana anak kecil sekarang yang seperti usiaku dulu mungkin tidak bisa merasakan kegemilangan, kehebohan, kegembiraan, kebersamaan, dan kebahagiaan pesta rakyat tahunan itu.  Dahulu, setiap Agustusan tiba, ada gengsi, ada prestise yang diba...